Selasa, 04 Desember 2012

Wayang Golek Di Nusantara

Arti kata
Golek memiliki sifat pejal. Penikmatan bentuknya sama seperti menikmati arca, boneka, atau benda-benda trimatra lainnya. Kesempurnaan bentuknya bisa dicerap baik dari arah depan, samping, maupun belakang. Ia merupakan boneka tiruan rupa manusia (ikonografi), dibuat dari bahan kayu bulat-torak untuk mempertunjukkan sebuah lakon. Dalam pementasan cerita, ia “dihidupkan” oleh seorang dalang yang sekaligus berperan sebagai sutradara dan pemberi watak atau ekspresi tokoh golek melalui sabetan (gerak) dan antawacana (dialog). 
Asal Mula
Disebutkan oleh sejumlah penulis bahwa menjelang akhir sebuah pertunjukan wayang kulit, dalang selalu menampilkan tarian dengan menggunakan boneka golek. Kata golek dalam bahasa Jawa berarti mencari (nggoleki). Penampilan golek ini mengandung maksud agar setelah penonton usai mengikuti lakon dari awal hingga akhir, mereka bisa nggoleki atau mencari inti pelajaran yang bermanfaat, yang tersirat dalam pertunjukan (Amir, 1991; Wibisono, 1974). Bentuk boneka golek yang digunakan adalah golek wanita, tetapi tidak diambil dari salah satu tokoh yang ada dalam cerita wayang golek (Yudoseputro, 1994).
Menurut pendapat Elan (1994) dan Yudoseputro (1994), pada pertumbuhan awal, bagian lengan wayang kulit masih menempel pada tubuhnya. Model wayang kulit tersebut masih bisa dilihat pada jenis wayang yang menggambarkan tokoh dewa. Hingga masa kerajaan Demak, keadaan itu masih terus dipertahankan.
Beberapa catatan, khususnya tentang wayang golek, yang bisa dikemukakan di sini, antara lain yang ditulis oleh Salmun (1986).


“Pada tahun 1583 M Sunan Kudus mendapat akal sehingga wayang dapat dimainkan pada siang hari yaitu dengan cara membuat wayang dari kayu yang kemudian disebut wayang golek. Dengan adanya wayang golek itulah, maka wayang dapat dimainkan pada siang hari.”
Sejalan dengan penjelasan Salmun, Ismunandar (1988) mengemukakan:
“Pada awal abad ke-16, Kudus membuat bangun „wayang purwo‟ baru, mengambil cerita-cerita Menak (berjumlah tujuh puluh buah), diiringi gamelan Salendro, pertunjukkan diadakan di waktu siang, tidak memakai kelir, hanya memakai „plangkan‟ (tempat meletakkan wayang golek yang terbuat dari kayu). Bentuk wayang seperti „boneka atau golek‟ tetapi menyerupai „wayang‟, hidungnya tajam, tangannya kecil-kecil panjang. Jadi merupakan campuran atau kombinasi wayang kulit dan arca. Wayang ini disebut “wayang golek” 
Kesimpulan
Kedua penjelasan tersebut menunjukkan bahwa golek yang pertama dipertunjukkan secara utuh, lengkap dengan tokoh-tokoh dan ceritanya, tidak sebagai golek pelengkap pertunjukkan wayang kulit, adalah golek dengan cerita Raja Menak. Awal abad ke-19, di pusat kerajaan di Jawa Tengah, bangkit gairah mengembangkan bidang sastra. Di samping muncul karya-karya sastra yang baru, seni pedalangan menjadi bidang garapan dalang-dalang istana. Pada masa ini, lahir pula pembakuan susunan pergelaran, bahasa pedalangan, lakon-lakon, gending pengiring, serta aspek-aspek wayang lainnya (Wibisono, 1974).


Wayang Golek Purwa Sunda baru dikenal di Priangan pada awal abad ke XIX dengan dibukanya Jalan Raya Daendels yang membuka isolasi daerah Priangan yang bergunung-gunung dengan daerah pantai Jawa-Barat. Jalan Raya Daendels menghubungkan kota Batavia (Jakarta) dengan Bogor-Sukabumi-Cianjur dan Bandung, selain juga kota Cirebon-Majalengka-Sumedang dan Bandung. Kesultanan Cirebon dengan Kraton Kasepuhan dan Kanoman, banyak pengaruhnya dalam pengembangan kebudayaan di Priangan dengan adanya hubungan jalan raya Daendels tersebut.
Kota Bandung yang dikenal kemudian menjadi pusat pemerintahan Propinsi Jawa Barat, menjadi salah satu pusat seni budaya Sunda, khususnya dibawah pimpinan para bupati keluarga Wiranata Kusumah yang terkenal. Menurut tokoh pedalangan Sunda yang buku karangannya menjadi buku Babon para dalang di Pasundan, yaitu Mas Adung Salmun, menyatakan bahwa penciptaan Wayang Golek Purwa Sunda diprakarsai oleh Bupati Bandung, Wiranatakusumah ke IV pada tahun 1940 dengan juru ukir wayang. golek bernama Darman berasal dari Tegal, Jawa Tengah. Koleksi Museum Wayang karya Bpk. Prawiradilaga.



Golek, sebutan khusus untuk menyebut wayang golek purwa sesuai dengan yang biasa disebut oleh kebanyakan masyarakat Sunda, adalah wayang dengan latar belakang cerita Mahabharata dan Ramayana. Jenis wayang ini merupakan hasil perkembangan atau paduan antara gagasan Dalem Karang Anyar, pada akhir masa jabatannya sebagai Bupati Kabupaten Bandung tahun 1840-an, dengan Ki Darman seorang juru wayang kulit asal Tegal yang tinggal di Cibiru, Kabupaten Bandung. Dalem Karang Anyar ( Wiranata Koesoemah III ) berperan menyempurnakan raut golek awal itu hingga bulat-torak bentuk agak besar dengan bahan kayu lame atau jinjing yang di tatah lebih rumit dan lebih halus.
Keturunan Ki Darman sampai kini masih terus menghidupkan kegiatan pembuatan golek. Tersebarnya pusat kegiatan pembuatan golek di kawasan Jawa Barat, seperti di Jelekong, Ciparay, Salacau, Cimareme, Sukabumi, Bogor, Karawang, Indramayu, Cirebon, Garut, Ciamis, dan di tempat lainnya, ditunjang oleh keturunan dan murid-murid Ki Darman yang mengembangkan kegiatannya di luar Cibiru.

Wayang Golek Lenong Betawi ini hasil pemikiran dan karya Tizar Purbaya pada tahun 2001. hal ini di ciptakan untuk menambah hasil karya seni khususnya kesenian Betawi, diharapkan mendapat perhatian masyarakat luas dan menjadi tuan rumah di tempatnya sendiri (Provinsi DKI Jakarta). Wayang Golek Lenong Betawi merupakan gambaran masyarakat Betawi pada masa tempo dulu dan pernah di pentaskan di beberapa tempat. Tizar Purbaya selain Dalang Wayang Golek Sunda juga berprofesi sebagai pengrajin wayang. 


Di awal abad ke 16 pada zaman Panembahan Ratu (1540-1650) (cicit Sunan Gunung Jati) telah muncul sebuah bentuk wayang yaitu WAYANG GOLEK PAPAK (Cepak) yang membawakan lakon Wong Agung Menak (Amir Hamzah). Sedangkan pada zaman PANGERAN GIRILAYA (1650-1662) yaitu seorang canggah Sunan Gunung Jati, pagelaran wayang papak dilengkapi dengan kisah-kisah yang diambil dari babad dan sejarah tanah Jawa. Mula-mula bahasa yang dipakai adalah bahasa Jawa. Namun lambat laun di daerah yang penduduknya berbahasa Sunda, maka para dalang menyesuaikan diri dengan keadaan setempat (menggunakan bahasa Sunda), kecuali dalam beberapa hal seperti, buka panggung/murwa, kakawen dll, sehingga pagelaran wayang dapat dipahami oleh masyarakat setempat.

Wayang ini diawali oleh dalang Parta Suwanda dari Bandung pada tahun 1960 menciptakan ”Wayang Golek Modern” Perubahan teknik pementasan dengan pemakaian effek tata cahaya dan bunyi suara untuk adegan-adegan yang memikat perhatian penonton. Dalam Pembukaan Seminar Perdalangan Jawa Barat I, tanggal 26 s.d 29.Pebruari.1964 di Bandung telah diwujudkan bentuk ”Wayang Golek Baru” yang disesuaikan dengan perkembangan Jaman. Pada saat itu pula R.A. Darya mengajukan naskah ceritera ” Sulanjana” dan dipentaskan untuk mencari bentuk baru pemanggungan wayang di Jawa Barat. Atas keputusan para Pengurus Yayasan Pedalangan Jawa Barat pergelaran wayang baru mendapatkan sebutan ” Wayang Pakuan ”. Wayang Pakuan dipentaskan pertama kali oleh dalang Elan Surawisastra pada bulan Nopember 1964 di Bandung. Wayang Golek Pakuan mementaskan ceritera-ceritera Babat Pajajaran, Penyebaran agama Islam di Jawa Barat, dan ceritera datangnya Bangsa Asing di Indonesia. 
Wayang Golek Mini Bandung
Wayang Golek Purwa Sunda baru dikenal di Priangan pada awal abad ke XIX dengan dibukanya Jalan Raya Daendels yang membuka isolasi daerah Priangan yang bergunung-gunung dengan daerah pantai Jawa-Barat. Jalan Raya Daendels menghubungkan kota Batavia (Jakarta) dengan Bogor-Sukabumi-Cianjur dan Bandung, selain juga kota Cirebonn-Majalengka-Sumedang dan Bandung. Kesultanan Cirebon dengan Kraton Kasepuhan dan Kanoman, banyak pengaruhnya dalam pengembangan kebudayaan di Priangan dengan adanya hubungan jalan raya Daendels tersebut. Kota Bandung yang dikenal kemudian menjadi pusat pemerintahan Propinsi Jawa Barat, menjadi salah satu pusat seni budaya Sunda, khususnya dibawah pimpinan para bupati keluarga Wiranata Kusumah yang terkenal. Menurut tokoh pedalangan Sunda yang buku karangannya mennjadi buku Babon para dalang di Pasundan, yaitu Mas Adung Salmun, menyatakan bahwa penciptaan Wayang Golek Purwa Sunda diprakarsai oleh Bupati Bandung, Wiranatakusumah ke IV pada tahun 1940 dengan juru ukir wayang. golek bernama Darman berasal dari Tegal, Jawa Tengah. 
Wayang Dangkluk dari Bali
bentuknya seperti wayang golek pada umumnya namun tidak menggunakan penyangga pada tangannya... cara memainkannya pun berbeda..

Cara pementasannya sangat khusus. Wayang ini digantungkan pada empat utas kawat yang direntangkan melintasi panggung. Yang mempertunjukkannya adalah dua orang dalang yang masing-masing berada di sisi panggung

Sumber : http://blog-urangsunda.blogspot.com/

0 komentar:

Posting Komentar